Abel point of view.
Dan tanpa aku sadari, kami berdua adalah sepasang gunung yang dipertemukan dalam sebuah kalimat panjang yang akan berakhir tragis.

๐๐๐๐ขโ
Laki-laki itu berdiri bagai pelepah kelapa yang tengah menunggu di sapa, sedang aku adalah bunga layu yang menunggu runtuh.
Dan sepertinya aku akan runtuh di hadapannya.
Ia menoleh ke arahku, bibirnya tengah dijejal rokok yang hampir menelan jemarinya, bisa aku rasakan asapnya yang diam-diam mengecupku lebih dulu daripada pemiliknya. Aku terbatuk-batuk dan laki-laki itu segera mendekat padaku. Ia buang lebih dulu rokok itu ke sebuah tong kotor yang ada di dekat pagar.
โMaaf, gue nggak tahu kalau lo sudah ada di sini.โ
Aku menggeleng kecil, โNggak apa-apa kok, gue nggak apa-apa.โ
Guntur masih menungguku, wajahnya mencuri kesempatan untuk mengamatiku yang baru saja selesai batuk. Aku bisa melihatnya cemas dan aku temukan rasa bersalah di wajahnya pula. Cepat-cepat aku menoleh ke padanya agar ia tahu bahwa aku baik-baik saja. โGuntur, gue beneran nggak apa-apa.โ